Ekonomi
Beranda / Ekonomi / DEN Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2–5,4 Persen di 2026

DEN Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2–5,4 Persen di 2026

Mari Elka Pangestu menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 5,2–5,4 persen. Foto: Dewan Ekonomi Nasional. Ilustrasi: AI/WARTAINDONESIA.CO.ID

JAKARTA, WARTAINDONESIA.CO.ID – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,2 hingga 5,4 persen. Proyeksi tersebut disampaikan di tengah perlambatan ekonomi global dan sejumlah tantangan yang masih dihadapi perekonomian domestik.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama dan kedua 2026 relatif tinggi. Namun, pertumbuhan pada kuartal ketiga dan keempat diperkirakan mengalami perlambatan.

Keterangan tersebut disampaikan Mari dalam Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis (1/10/2026), sebagaimana dilansir ANTARA.

DEN memperkirakan secara keseluruhan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di kisaran 5,2–5,4 persen pada 2026.

Ruang Fiskal Jadi Tantangan

Mari mengatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah yang selama ini menjadi salah satu bantalan untuk menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

APBN 2027 Jadi Sorotan, Ini Isu Fiskal Utamanya

Menurut dia, pemerintah perlu menjaga ruang fiskal dengan tetap memperhatikan keberlanjutan utang.

Utang masih diperlukan untuk membiayai defisit, tetapi penggunaannya perlu diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi sekaligus menjaga kesinambungan fiskal.

Mari juga menyoroti pentingnya meningkatkan rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto atau tax-to-GDP ratio.

Menurutnya, peningkatan penerimaan diperlukan agar pemerintah memiliki ruang yang lebih besar untuk membiayai berbagai kebutuhan pembangunan.

Upaya tersebut antara lain dapat dilakukan dengan meningkatkan kepatuhan pajak melalui implementasi Coretax sekaligus memperluas basis perpajakan.

Rupiah ditutup menguat ke Rp17.882 per dolar AS

Belanja Pemerintah Perlu Lebih Efisien

Dari sisi pengeluaran negara, Mari menilai efisiensi belanja dan penentuan prioritas menjadi semakin penting.

Ia menyebut evaluasi belanja atau spending review serta digitalisasi pemerintahan dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pengeluaran negara.

Reformasi subsidi bahan bakar minyak juga dinilai diperlukan agar subsidi semakin tepat sasaran.

Penghematan dari reformasi tersebut, menurut Mari, dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.

Kebijakan Moneter Punya Ruang Terbatas

DEN juga melihat kebijakan moneter menghadapi tantangan akibat kondisi ekonomi global.

Asuransi Syariah Hadapi Tekanan Kontribusi, OJK Dorong Percepatan Spin-Off Unit Syariah

Mari mengatakan tingginya suku bunga global akibat tekanan inflasi membuat ruang penurunan suku bunga domestik untuk mendorong pertumbuhan dan investasi menjadi lebih terbatas.

“Jadi kebijakan moneter pun tidak akan terlalu bisa membantu growth dan investasi. Jadi harus datang dari perubahan-perubahan kebijakan struktural,” kata Mari, dilansir dari ANTARA.

Karena itu, DEN memandang reformasi struktural perlu menjadi salah satu sumber utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.

Sejumlah Indikator Ekonomi Masih Positif

Di tengah berbagai tantangan tersebut, sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan positif.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan beberapa indikator yang dirilis pada awal Oktober menunjukkan kondisi yang cukup menggembirakan.

“Hari ini ada beberapa angka yang keluar yang cukup membesarkan hati,” kata Suahasil di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (1/10/2026), seperti dilansir ANTARA.

Salah satunya adalah Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia yang kembali masuk zona ekspansi pada September 2026.

PMI Manufaktur tercatat pada level 52,4, meningkat dari 49,8 pada Agustus. Capaian tersebut sekaligus menjadi perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026.

Inflasi juga masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.

BI meyakini inflasi sepanjang 2026 dan 2027 tetap terkendali dalam target 2,5 persen plus-minus 1 persen, atau berada pada rentang 1,5–3,5 persen.

Sejalan dengan Sejumlah Proyeksi

Perkiraan DEN berada dalam kisaran yang relatif sejalan dengan proyeksi sejumlah lembaga dan ekonom.

Asian Development Bank (ADB), misalnya, mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026.

Sementara itu, Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,4 persen sepanjang 2026.

Neumann menyebut perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai gejolak global.

Target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sendiri ditetapkan sebesar 5,4 persen.

Dengan demikian, proyeksi DEN sebesar 5,2–5,4 persen menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada rentang yang dekat dengan target pemerintah dan perkiraan sejumlah lembaga.

Namun, perkembangan ekonomi global, suku bunga internasional, inflasi, ruang fiskal, investasi, serta keberhasilan reformasi struktural akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan pencapaian pertumbuhan hingga akhir 2026.

Editor: Adam NW 

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *