WASHINGTON, WARTAINDONESIA.CO.ID – Pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat melambat tajam pada September 2026, mendorong pasar menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve atau The Fed pada pertemuan Oktober.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan nonfarm payrolls hanya bertambah 29.000 pekerjaan pada September. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 90.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran AS juga meningkat menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen pada Agustus. Kenaikan terjadi seiring bertambahnya jumlah orang yang masuk ke angkatan kerja.
Data bulan-bulan sebelumnya turut direvisi turun. Pertumbuhan lapangan kerja Agustus direvisi menjadi 133.000 dari laporan sebelumnya 162.000, sementara revisi Juli menunjukkan berkurangnya sekitar 60.000 pekerjaan dari estimasi gabungan sebelumnya untuk Juli dan Agustus.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Oktober Turun
Melemahnya data ketenagakerjaan langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed.
Setelah laporan tersebut dirilis, kontrak berjangka suku bunga menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober turun menjadi kurang dari 20 persen. Sebelumnya, peluang tersebut berada di atas 25 persen.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September untuk membantu mengendalikan tekanan inflasi.
Meski demikian, pejabat bank sentral masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya sebelum akhir tahun apabila tekanan inflasi tetap tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja dinilai cukup kuat.
Pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember relatif besar, meski ekspektasi tersebut juga sedikit menurun setelah data ketenagakerjaan terbaru dirilis.
Pertumbuhan Upah Ikut Melambat
Laporan ketenagakerjaan juga menunjukkan pertumbuhan upah mulai kehilangan momentum.
Rata-rata pendapatan per jam naik 0,1 persen pada September dan tumbuh 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan tahunan tersebut merupakan yang terendah sejak Mei 2021.
Perlambatan pertumbuhan upah dapat menjadi salah satu indikator berkurangnya tekanan inflasi dari sisi pasar tenaga kerja.
Namun, kondisi ketenagakerjaan AS belum menunjukkan pelemahan menyeluruh. Klaim awal tunjangan pengangguran sebelumnya masih berada di sekitar level terendah dalam 57 tahun, sementara perusahaan belum menunjukkan peningkatan besar dalam pemutusan hubungan kerja.
Bursa AS Menguat
Data tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan mendapat respons positif dari pasar saham karena investor melihat peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober semakin besar.
Pada pembukaan perdagangan Jumat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,67 persen, S&P 500 bertambah 0,89 persen, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,27 persen.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun setelah data tersebut dirilis. Penurunan imbal hasil obligasi biasanya dapat memberikan dukungan bagi valuasi saham dan menurunkan tekanan biaya pinjaman.
Data terbaru ini membuat pasar menghadapi dua pertimbangan utama: perlambatan pasar tenaga kerja yang dapat mendorong The Fed menahan kenaikan suku bunga, serta tekanan inflasi yang masih berada di atas target bank sentral sebesar 2 persen.
Arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, harga energi, dan kondisi geopolitik global menjelang pertemuan kebijakan berikutnya.
Editor: Adam NW



Komentar