SEOUL, WARTAINDONESIA.CO.ID, – Badan Intelijen Nasional Korea Selatan atau National Intelligence Service (NIS) mengungkap penilaian terbaru mengenai kondisi pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. NIS memperkirakan berat badan Kim berada di kisaran 140 kilogram, namun hingga kini tidak ditemukan tanda-tanda gangguan kesehatan serius yang memengaruhi aktivitasnya.
Penilaian tersebut disampaikan NIS dalam pengarahan tertutup kepada Komite Intelijen Majelis Nasional Korea Selatan pada Rabu (30/9/2026). Informasi dari pertemuan tersebut kemudian disampaikan kepada wartawan oleh anggota parlemen yang menghadiri pengarahan.
Menurut NIS, kondisi Kim dikategorikan mengalami obesitas berat sehingga memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular. Meski demikian, badan intelijen Korea Selatan menilai pemimpin Korea Utara tersebut masih menunjukkan kemampuan melakukan aktivitas fisik tanpa kendala berarti.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian NIS adalah aktivitas Kim ketika melakukan inspeksi terhadap kapal perusak. Kim disebut masih mampu menaiki tangga dengan cepat dan tidak memperlihatkan tanda-tanda masalah kesehatan yang signifikan.
Informasi mengenai kondisi kesehatan Kim Jong Un selama ini sulit diverifikasi secara independen karena Korea Utara sangat membatasi informasi mengenai kehidupan pribadi dan kesehatan pemimpinnya. Karena itu, berbagai laporan mengenai kondisi Kim umumnya berasal dari pengamatan kegiatan publik, rekaman resmi, citra, serta analisis badan intelijen negara lain.
Kim Ju Ae Semakin Sering Tampil
Dalam pengarahan yang sama, NIS turut menyoroti meningkatnya peran putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae, dalam berbagai agenda resmi Korea Utara.
Badan intelijen tersebut menilai posisi Ju Ae semakin menonjol karena keterlibatannya tidak lagi terbatas pada kegiatan militer, tetapi mulai meluas ke agenda politik, diplomasi, serta kegiatan yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
NIS mencatat Kim Ju Ae telah tampil dalam sekitar 30 kegiatan publik sepanjang 2026.
Perkembangan tersebut kembali memunculkan perhatian terhadap isu suksesi kepemimpinan Korea Utara. Namun, status resmi Ju Ae sebagai penerus Kim Jong Un belum diumumkan secara terbuka oleh Pyongyang.
Situasi Semenanjung Korea Tetap Tegang
Laporan mengenai Kim Jong Un muncul ketika hubungan Korea Utara dan Korea Selatan kembali berada dalam situasi tegang.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Kamis (1/10/2026) menyerukan pemulihan dialog dan kepercayaan dengan Pyongyang setelah meningkatnya ketegangan terkait insiden ranjau di Zona Demiliterisasi atau DMZ yang melukai tiga tentara Korea Selatan.
Korea Selatan dan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan ranjau yang menyebabkan insiden tersebut berasal dari Korea Utara. Pyongyang membantah tuduhan itu dan menilai klaim Seoul tidak berdasar.
Di sisi lain, perhatian internasional juga tertuju pada kemungkinan kembali terbukanya komunikasi antara Korea Utara dan Amerika Serikat. NIS sebelumnya menilai terdapat sejumlah tanda yang mengarah pada peluang dialog, meskipun belum ada konfirmasi mengenai pembicaraan resmi antara kedua negara.
Kim Jong Un telah memimpin Korea Utara sejak akhir 2011. Di bawah kepemimpinannya, Pyongyang terus mengembangkan program rudal balistik dan senjata nuklir yang menjadi salah satu isu utama dalam hubungan Korea Utara dengan Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, serta negara-negara lain di kawasan.
Editor: Adam NW



Komentar