Internasional
Beranda / Internasional / The Fed Belum Buru-buru Naikkan Suku Bunga Lagi

The Fed Belum Buru-buru Naikkan Suku Bunga Lagi

Beth Hammack Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland membahas arah suku bunga The Fed
Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack. Foto: Federal Reserve Bank of Cleveland. Ilustrasi: AI/WARTAINDONESIA.CO.ID

WASHINGTON, WARTAINDONESIA.CO.ID – Sejumlah pejabat Federal Reserve atau The Fed memberi sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat belum perlu terburu-buru kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan akhir Oktober 2026.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat terbaru masih sejalan dengan tren pasar tenaga kerja dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam wawancara dengan PBS News Hour yang dilansir Reuters, Jumat (2/10/2026), Hammack mengatakan The Fed masih memiliki cukup waktu untuk menilai data sebelum menentukan langkah kebijakan selanjutnya.

“Kami masih akan mendapatkan banyak informasi sebelum pertemuan pada akhir bulan, jadi masih ada banyak waktu untuk memutuskan sikap kebijakan yang tepat,” kata Hammack, dilansir Reuters.

Data Tenaga Kerja Melemah

Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk September menunjukkan penambahan nonfarm payrolls hanya sekitar 29.000 pekerjaan.

Data tenaga kerja AS dan ekspektasi suku bunga Fed

Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2 persen.

Menurut Hammack, rata-rata penambahan lapangan kerja selama 12 bulan terakhir berada di sekitar 41.000 pekerjaan per bulan.

Ia menilai angka tersebut masih cukup dekat dengan estimasinya mengenai tingkat penciptaan lapangan kerja yang diperlukan untuk menjaga kestabilan pasar tenaga kerja.

Pernyataan Hammack muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada September menjadi kisaran 3,75–4,00 persen.

Williams: Tidak Ada Kebutuhan Mendesak

Sinyal serupa sebelumnya disampaikan Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams.

Rupiah ditutup menguat ke Rp17.882 per dolar AS

Dalam pidatonya di University at Buffalo, New York, Selasa (29/9/2026), Williams mengatakan The Fed tidak perlu segera melakukan kenaikan lanjutan setelah keputusan September.

“Dengan langkah kebijakan yang kami ambil pada pertemuan September, tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru,” kata Williams, sebagaimana dilansir Reuters.

Williams menilai pemantauan terhadap data ekonomi yang masuk akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi perekonomian sebelum keputusan selanjutnya diambil.

Menurut dia, apabila ekonomi berkembang sesuai perkiraannya, satu kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun masih mungkin diperlukan untuk membantu membawa inflasi kembali menuju target 2 persen.

Namun, Williams menegaskan proyeksi tersebut bukan keputusan final dan tetap bergantung pada keseluruhan data ekonomi.

Kim Jong Un Disebut Berbobot Sekitar 140 Kg, Intelijen Korsel Ungkap Kondisi Terkini

Peluang Kenaikan Oktober Menurun

Sikap hati-hati para pejabat The Fed ikut mengubah ekspektasi pasar.

Setelah data inflasi dan ketenagakerjaan terbaru dirilis, pelaku pasar mulai memangkas peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 27–28 Oktober.

Reuters melaporkan pasar kini menilai peluang kenaikan pada Oktober semakin kecil dan mulai melihat Desember sebagai waktu yang lebih memungkinkan apabila The Fed masih memilih untuk mengetatkan kebijakan.

Goldman Sachs bahkan menggeser proyeksi kenaikan suku bunga berikutnya dari Oktober ke Desember setelah data inflasi Amerika Serikat pada Agustus lebih rendah dari perkiraan.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik 3,4 persen secara tahunan pada Agustus, lebih rendah dari estimasi ekonom sebesar 3,7 persen.

Inflasi Masih Jadi Perhatian

Meski pasar mulai melihat peluang The Fed menahan suku bunga pada Oktober, tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

Hammack selama ini dikenal sebagai salah satu pejabat The Fed yang relatif mendukung kebijakan moneter lebih ketat untuk menekan inflasi.

Karena itu, sikapnya yang kini menekankan perlunya menunggu data tambahan menunjukkan bahwa bank sentral akan semakin bergantung pada perkembangan indikator ekonomi sebelum menentukan langkah berikutnya.

The Fed tetap memiliki dua mandat utama, yakni menjaga stabilitas harga dan mendukung tingkat lapangan kerja maksimum.

Data ketenagakerjaan yang melemah dapat mengurangi kebutuhan untuk segera menaikkan suku bunga, tetapi inflasi yang masih berada di atas target 2 persen tetap membatasi ruang pelonggaran kebijakan.

Investor kini menunggu rangkaian data ekonomi berikutnya, termasuk perkembangan inflasi, upah, konsumsi, dan pasar tenaga kerja, sebelum pertemuan FOMC akhir Oktober.

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *