JAKARTA, WARTAINDONESIA.CO.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakhir melemah pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.966 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah 72 poin atau sekitar 0,40 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.894 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi sejak awal perdagangan. Pada pembukaan Kamis pagi, rupiah berada di sekitar Rp17.915 per dolar AS atau turun 21 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah berlanjut hingga siang hari dan akhirnya membawa mata uang domestik mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Penguatan greenback dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi salah satu sentimen eksternal yang membebani mata uang negara berkembang.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat berada di kisaran 5,3 persen. Tingginya yield obligasi AS meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan mendorong permintaan terhadap mata uang Amerika Serikat.
Tekanan juga datang dari tingginya harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, pasar turut mencermati perkembangan inflasi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Secara bulanan, inflasi September tercatat 0,30 persen, sedangkan secara tahun kalender mencapai 2,17 persen.
Meski demikian, Indonesia juga memperoleh sentimen positif dari kinerja perdagangan. Neraca perdagangan Agustus 2026 mencatat surplus sekitar US$3,55 miliar. Namun, data tersebut belum cukup kuat untuk menahan tekanan terhadap rupiah dari sentimen global.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. JISDOR Kamis tercatat sebesar Rp17.937 per dolar AS, melemah dibandingkan Rp17.877 per dolar AS pada Rabu, 30 September 2026.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan dolar AS, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, harga minyak dunia, serta arah kebijakan moneter Federal Reserve dan Bank Indonesia.
Pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi arus modal asing di pasar keuangan domestik serta perkembangan sentimen terhadap aset negara berkembang.
Untuk perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, sejumlah analis memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak volatil di sekitar Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS, seiring kuatnya tekanan eksternal terhadap mata uang Asia.
Editor: Adam NW



Komentar