BEIJING, WARTAINDONESIA.CO.ID – China terus mempercepat pembangunan jaringan komputasi nasional terintegrasi untuk menghubungkan pusat data, pusat komputasi kecerdasan buatan (AI), superkomputer, jaringan telekomunikasi hingga sumber energi di berbagai wilayah negara tersebut.
Jaringan tersebut dirancang agar kapasitas komputasi dapat dialokasikan dan digunakan lintas wilayah sesuai kebutuhan, sehingga sumber daya komputasi pada akhirnya dapat diakses layaknya layanan infrastruktur dasar.
Pembangunan jaringan komputasi nasional juga menjadi salah satu agenda dalam Rencana Lima Tahun ke-15 China periode 2026–2030, dengan melanjutkan proyek “East Data, West Computing” atau pemrosesan data dari wilayah timur menggunakan kapasitas komputasi yang banyak dikembangkan di wilayah barat.
Melalui konsep tersebut, kebutuhan komputasi dari kawasan industri dan teknologi di China bagian timur dapat dialihkan ke pusat-pusat komputasi yang berada di wilayah barat, terutama untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan latensi sangat rendah seperti pelatihan model AI dan pemrosesan data skala besar.
China sebelumnya telah membangun delapan pusat komputasi nasional yang tersebar di Beijing-Tianjin-Hebei, Delta Sungai Yangtze, Guangdong-Hong Kong-Makau Greater Bay Area, Chengdu-Chongqing, Mongolia Dalam, Guizhou, Gansu, dan Ningxia.
Kapasitas Komputasi AI Terus Bertambah
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China melaporkan kapasitas komputasi cerdas atau intelligent computing power negara tersebut mencapai 2.185 EFLOPS pada akhir Juni 2026.
Pada periode yang sama, tingkat pemanfaatan rak fasilitas komputasi nasional mencapai 71,4 persen. China juga telah membangun 52 fasilitas komputasi cerdas yang masing-masing memiliki lebih dari 10.000 kartu akselerator.
Sebelumnya, pada akhir Maret 2026, kapasitas komputasi cerdas China tercatat sekitar 1.882 EFLOPS FP16. Pertumbuhan tersebut menunjukkan pesatnya ekspansi infrastruktur untuk mendukung AI dan industri digital.
Tidak hanya membangun pusat data, China juga memperluas jaringan transmisi berkecepatan tinggi yang menghubungkan berbagai pusat komputasi.
Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 70 jalur interkoneksi komputasi berkecepatan tinggi telah dibangun di sekitar pusat-pusat komputasi nasional. Infrastruktur tersebut berfungsi sebagai jalur khusus untuk mengirimkan data dan tugas komputasi antardaerah.
1,37 Juta PFLOPS Masuk Sistem Pemantauan
Salah satu komponen penting jaringan tersebut dikembangkan melalui platform pemantauan dan penjadwalan jaringan komputasi nasional di Peng Cheng Laboratory, Shenzhen.
Platform itu telah mencakup 10 klaster utama yang berada dalam delapan pusat komputasi nasional serta sejumlah sumber daya komputasi di luar kawasan pusat tersebut.
Sekitar 1,37 juta PFLOPS kapasitas komputasi cerdas telah dimasukkan ke dalam sistem pemantauan tersebut, atau sekitar 72 persen dari keseluruhan kapasitas komputasi cerdas China pada saat data tersebut dilaporkan pada Juni 2026.
Sistem itu dirancang untuk memantau ketersediaan sumber daya komputasi sekaligus membantu mencocokkan tugas dengan pusat komputasi yang paling sesuai.
Dengan mekanisme tersebut, satu pekerjaan komputasi tidak harus diproses di pusat data yang berada dekat dengan pengguna, melainkan dapat dialihkan ke fasilitas lain berdasarkan kebutuhan kapasitas, jaringan, biaya dan ketersediaan energi.
Komputasi Seperti Listrik dan Air
Pengembangan jaringan komputasi nasional China mengarah pada konsep menjadikan kapasitas komputasi sebagai sumber daya yang dapat diakses sesuai permintaan, serupa dengan penggunaan listrik atau air.
Peng Cheng Laboratory juga mengembangkan sistem yang memungkinkan beragam tugas komputasi dijadwalkan dan dijalankan melalui jaringan nasional tanpa pengguna harus menentukan secara manual pusat data yang akan digunakan.
Model tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan AI generatif, model bahasa besar atau large language model (LLM), serta berbagai aplikasi berbasis agen AI.
Data yang dipublikasikan dalam rangka Digital China Summit menyebut penggunaan rata-rata harian token AI di China telah meningkat lebih dari 1.400 kali lipat dalam dua tahun, mencerminkan tingginya kebutuhan terhadap kapasitas pemrosesan.
Energi Hijau Jadi Bagian Strategi
Pemerintah China juga mengintegrasikan pengembangan jaringan komputasi dengan sistem energi.
Banyak fasilitas komputasi besar ditempatkan di wilayah barat yang memiliki ketersediaan lahan serta sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya.
Tugas komputasi yang tidak membutuhkan respons secara real-time, termasuk sejumlah proses pelatihan AI dan batch inference, dapat diarahkan ke wilayah tersebut. Sementara kebutuhan dengan latensi rendah seperti layanan keuangan dan kontrol industri dapat tetap diproses lebih dekat dengan kawasan pengguna.
Strategi ini diharapkan meningkatkan pemanfaatan energi hijau sekaligus menekan biaya operasional pusat komputasi.
Masuk Enam Infrastruktur Utama China
Besarnya perhatian pemerintah terhadap jaringan komputasi terlihat dari program investasi badan usaha milik negara China.
Perusahaan-perusahaan milik pemerintah pusat China pada 2026 berencana menginvestasikan sekitar 2 triliun yuan atau sekitar US$298,4 miliar ke dalam enam kelompok jaringan infrastruktur utama.
Enam sektor tersebut meliputi jaringan air, jaringan listrik maju, jaringan komputasi, jaringan komunikasi generasi berikutnya, jaringan pipa bawah tanah perkotaan, dan jaringan logistik. Angka 2 triliun yuan tersebut merupakan total investasi untuk enam sektor tersebut, bukan khusus jaringan komputasi.
Pengembangan jaringan komputasi nasional menjadi bagian penting strategi China membangun fondasi ekonomi digital sekaligus memenuhi kebutuhan komputasi yang meningkat tajam akibat perkembangan AI.
Jika proyek tersebut berkembang sesuai rencana, pusat-pusat data yang sebelumnya tersebar dan beroperasi relatif independen akan semakin terhubung dalam satu ekosistem nasional yang memungkinkan kapasitas komputasi, jaringan, data dan energi dikelola secara lebih terintegrasi.
Editor: Adam NW



Komentar